Kamis, 21 Juni 2012

BINGKAI edisi 84 (sorry no bingkai)


BINGKAI edisi 83 "Dinikmati"


DINIKMATI

Dibanding daerah lain di Republik ini, Kalimantan terus
saja dianaktirikan. Pulau dan masyarakat Kalimantan memberi segalanya dan tak banyak menerima apa-apa
dari Jakarta. Dalam soal BBM saja misalnya, Kalimantan diperlakukan berbeda. Hal inilah yang kemudian menyulut perlawanan, dari blokir tongkang batu bara hingga tuntutan merdeka. Banyak orang mendukung perlawanan itu.
Dhea Rezky Amelya (19), gadis kelahiran Banjarmasin,
10 Juli 1993 yang kuliah di Poliban salah satunya. Dhea setuju dengan pemblokiran tongkang batu bara
itu. “Aksi itu sangat jitu. Sayangnya, wakil rakyat Kalsel di DPR tidak banyak berbuat,” ujar Dhea yang juga bercita-cita jadi penulis terkenal itu.
Sementara menurut Putri Rezkia Yulian (18), akrab disapa Putri dan lahir di Banjarmasin, 4 Juli 1994, pemblokiran itu harusnya bukan sekadar ancaman kosong. “Jangan hanya berhenti ketika pemerintah menambah kuota BBM. Tapi berlanjut pada soal ketidakadilan yang selama ini dialami Kalimantan,” ujar Putri yang masih single dan berharap segera dapat pria idamannya itu.
Sedangkan menurut, Rasida Nadia Sholehah (17), kelahiran Banjarmsin, 1 September
1995 yang akrab disapa Nadia, perlawanan harus dilakukan
dengan membawa isu kerusakan lingkungan yang selama ini
dialami Kalimantan. “Kekayaan alam kita ditambang, lingkungan
rusak sedangkan hasilnya tidak kita dinikmati. Nah, itu yang
harus diperjuangkan,” kata Nadia, siswa SMKN 4 Banjarmasin yang
bercita-cita jadi model itu.
(BACCO)

Sabtu, 02 Juni 2012

BINGKAI edisi 82 "Membayang"

MEMBAYANG

Saban habis menjalani Ujian Nasional atau UN, selalu perasaan degdegan, lulus atau tidak, membayang di setiap benak para siswa. Kali ini pengumuman hasil UN dilakukan pada 26 Mei. Masing-masing orang yang pernah menjalani UN punya pengalaman tersendiri soal itu.
Indarti Sri Asi (22), gadis yang akrab disapa Chan, kelahiran Kuala Kapuas, Kalteng, pada 3 Juni 1990 misalnya, mengalami rasa deg-degan itu pada tahun 2008. Ia baru bisa lega ketika mengetahui dirinya lulus. “Hanya beberapa hari menikmati rasa lega setelah UN, pengumuman kelulusan sudah membayang. Untungnya lulus,” ujar Chan yang kini bekerja di Laboratorium Klinik RS Sari Mulia dan pernah menjadi Duta Narkoba di Kapuas itu.
Sedangkan Yeni Aprilliani (18), gadis kelahiran Banjarmasin, 24 April 1994, yang akrab disapa Yeni, mengalami ketegangan ketika menghadapi pengumuman hasil UN tahun lalu.Seperti Chan, Yeni juga lulus. Kini ia melanjutkan kuliah di Poliban Banjarmasin. “Walau waktu itu pengumuman UN belum keluar, aku langsung mendaftar untuk melanjutkan kuliah,” tutur Yeni, gadis berkulit kuning langsat yang bercita-cita jadi programmer itu.
Berbeda dengan Yeni, Devia Febrina (20), gadis kelahiran Banjarmasin, 7 Februari 1992 yang
akrab disapa Devi, justru tak terlalu tegang. Ia mempersiapkan diri ikut aksi corat-coret baju dan
konvoi kendaraan bermotor usai pengumuman kelulusan. “Jauh-jauh hari, cat dan spidol sudah
dipersiapkan untuk bergembira jika lulus,” kata Devi, gadis yang bercita-cita jadi penyanyi itu.

(BACCO)

BINGKAI edisi 81 "Cari Duit"

CARI DUIT

Babak ujian nasional (UN) sudah berakhir.
Semua jenjang pendidikan kini tak lagi sesibuk
ketika UN berlangsung. Namun ketika tahun
ajaran baru tiba, para siswa baru dipastikan
akan memiliki kesibukan lain yang relatif
menyulitkan mereka, terutama perubahan kurikulum.
Inilah yang menurut Mina Melati (23), lebih akrab disapa
Mina yang lahir di Amuntai, 4 Januari 1989, menjadi
salah satu prioritas siswa baru untuk menyesuaikan diri,
baik dengan lingkungan maupun kurikulum pelajaran.
“Perubahan kurikulum sangat dirasakan, Dulu sempat
kenal dua kurikulum, KBK dan KTSP,” kata Mina yang
bercita-cita jadi orang sukses dan hobi cari duit itu.
Perubahan kurikulum juga dirasakan Raries Wijayanti
(23), gadis yang akrab disapa Chacha kelahiran Sampit, 4
Agustus 1989. Ia prihatin karena perubahan kurikulum
biasanya akan berdampak pada tak dipakainya lagi beberapa
sarana pelajaran seperti buku misalnya di tahun ajaran
baru. “ Saat peralihan kurikulum siswa tidak memakai
buku-buku yang sebelumnya digunakan sebab buku
pembelajaran turut diganti,” ujar Chaca, putri tunggal
buah hati Budansyah-Ella R yang bekerja di Puskesmas
Pemurus Dalam itu.
Sedangkan Mariatul Kiptiyah (17), siswa SMK 1 Banjarmasin
yang akrab disapa Atul, mengaku pasrah saja dengan
seringnya kurikulum berubah. “Saya hanya mencoba
menjadi siswa yang mengikuti perkembangan pendidikan.
Lagian yang melakukan perubahan kan bukan orang-orang
berpendidikan rendah,” kata Atul yang mengenakan bra
berukuran 36 itu.
(BACCO)

Selasa, 01 Mei 2012

BINGKAI edisi 80 "Sanggup"


Sanggup

Banyaknya perempuan yang berperan
di berbagai sisi kehidupan seperti saat
ini tentu tak lepas dari jasa RA Kartini.
Pahlawan Nasional yang hari kelahirannya
diperingati sebagai Hari Kartini itu, telah
menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di
Indonesia. Inspirasi itu melintasi batas, ruang,
dan waktu, sehingga jasa Kartini tak hanya
diingat saban bulan April seperti yang senantiasa
terjadi. Kekaguman terhadap sosok Kartini
pun akhirnya terus berlangsung hingga kini.
Salah satu perempuan yang kagum pada
sosok Kartini itu adalah Rifmah Meirika
(19). Gadis kelahiran Banjarmasin, 15
Mei 1993, yang akrab disaba Meirika ini
menilai, walau Kartini berasal dari kalangan
bangsawan Jawa, pada masanya ia telah
memikirkan dan berjuang bagi semua
kalangan, termasuk perempuan biasa yang
kehidupan dan pendidikannya berlangsung
dalam muram. “Langkah beliau di bidang
pendidikan sangat jelas dan berguna bagi banyak orang,
bahkan hingga kini,” ujar Meirika, buah hati Rifat-Rabiatul
Kusmah yang bercita-cita jadi model profesional itu.
Sedangkan Lia Rosida (22), biasa disapa Lia Edenz yang
lahir di Kuala Kapuas, Kalteng, pada 19 November
1990, mengaku bersyukur pada perubahan nasib kaum
perempuan yang inspirasinya berasal dari RA Kartini.
“Sebagai perempuan, kita sepatutnya bersyukur, sebab
aktivitas, pekerjaan dan hak perempuan tidak terbatas
sebagaimana pada masa Kartini,” ujar Lia Endez yang
senang makan nasi goreng dan sate ini.
Berbeda dengan Meirika dan Lia, Karmila (21), gadis
kelahiran Banjarmasin, 26 September 1991 yang biasa
disapa Mila, justru tertarik pada usia Kartini yang
relaif muda (25 tahun) ketika berpulang. “Meskipun
usianya begitu muda, tapi dia sanggup melakukan
perubahan yang dapat dirasakan hingga hari ini,” tutur
Mila, putri pasangan Anang Samlan dan Siti Aisyah
yang bercita-cita jadi wanita karir itu. 
(BACCO)

Kamis, 26 April 2012

BINGKAI edisi 79 "Bergiliran"



Bergiliran

Walau pemerintah menunda kenaikan harga Bahan Bakar
Minyak (BBM), keadaan pompapompa bensin di Banua tak banyak berubah. Antrean panjang para pembeli BBM hingga kini masih terus berlangsung. Waktu yang dibutuhkan pembeli untuk mendapat BBM pun tetap lama. Dengan berbagai cara, para pelangsir pun masih ikut
dalam antrean panjang dan membosankan itu.
Hal inilah yang membuat Ryzka Herusanti (19) keheranan. “Harga BBM kan tak jadi naik. Tapi kok antrean di pompa bensin masih saja terus terjadi. Harusnya masyarakat tak perlu panik menyikapi isu BBM itu,”
ujar Ryzka yang lahir di Batulicin, Tanah Bumbu, 27 Januari 1993 yang senang belanja, online, dan
difoto ini.
Rasa heran juga menghinggapi Mayya Rosdinna (17) atau yang biasa disapa Mayya Cluster, kelahiran Banjarmasin, 2 Mei 1995. Mayya heran dengan masih adanya para
pelangsir yang mengambil keuntungan dari isu kenaikan harga BBM ikut antre di SPBU. “Padahal kan di situ banyak polisi,” ujar Mayya yang bercita-cita jadi pramugari dan senang makan nasi goreng itu.
Kesal dengan antrean panjang yang tak juga berkurang itu, Nurul Mu’minah (20), kelahiran Kotabaru, 25 Mei 1992 yang akrab disapa Nurul, memilih tak ambil pusing. Sejak isu kenaikan harga BBM hingga penundaannya, Nurul tak pernah lagi ikut mengantre di SPBU. “Antreannya terlalu panjang. Lebih baik mengalah, walau harus membayar lebih mahal,” ujarnya.
nU (BACCO)

Kamis, 05 April 2012

BINGKAI edisi 78 "Nilai"



NILAI
Bisa jadi tak banyak orang yang mengetahui, akhir Maret merupakan Hari Hemat Energi se-Dunia. Di hari itu, biasanya para pemangku kepentingan dan aktivis menyerukan masyarakat untuk menghemat energi dengan tindakan-tindakan sederhana, misalnya menghentikan pemakaian listrik dalam beberapa menit dan jam.
Tindakan yang diyakini akan mampu menghemat energi dan biaya itu, menurut Resnicha Herlina (23), gadis yang akrab disapa Icha kelahiran Jakarta, 23 Maret 1989, harusnya dilakukan seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. “Walau kelihatannya mematikan listrik selama satu jam itu tindakan kecil, tapi hal itu pasti bermanfaat. Apalagi hampir seluruh kegiatan manusia saat ini sangat tergantung dengan listrik,” ujar gadis yang bercita-cita jadi akuntan publik ini.
Sedangkan menurut Syarida Ulfa (17), lebih akrab disapa Syarida, siswa sebuah SMK di Banjarmasin, penghematan itu harusnya didahului oleh tindakan nyata dari para pejabat. “Dengan mereka melakukan hemat energi, kita masyarakat biasa jadi punya contoh yang diikuti,” ujar Syarida, kelahiran Banjarmasin 29 Juni 1995 yang ingin jadi perawat dan senang jalan-jalan.
Sementara menurut Nadra Amanda (18), kelahiran Palembang, Sumatera
Selatan, pada 19 Desember 1994, kampanye hemat energi itu justru akan sia-sia
jika tak diikuti seluruh masyarakat. “Kadang imbauan pemerintah yang nilainya
baik, justru dianggap sepele. Padahal hemat energi itu penting. Karena itu,
alangkah baiknya kita mengikuti imbauan itu,” ujar Nadra yang senang makan
kentang goreng dan hobi renang ini.
(BACCO)

BINGKAI edisi 77 "Panjang"


































PANJANG
Salah satu isu terseksi yang sedang berembus kencang di
Indonesia adalah kemungkinan naiknya harga Bahan Bakar
Minyak (BBM) pada April 2012. Besaran kenaikannya
masih dalam perdebatan. Menyusul hal itu, protes dan
demonstrasi pun merata terjadi di berbagai wilayah,
termasuk di Banua. Padahal, hingga kini Kalsel masih
belum mampu melepaskan diri dari persoalan BBM.
Lihat saja di sepanjang jalan di sekitar SPBU, antrean
panjang kendaraan masih terus berlangsung. Persoalan inilah yang menurut Dilycia Nayla (26), mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Banjarmasin, yang harusnya diselesaikan pemerintah. Menurut gadis kelahiran Banjarmasin, 1 April 1986 yang biasa disapa Nayla ini, persoalan BBM sangat penting untuk diselesaikan. “Jika tidak, keresahan pasti akan terus melingkupi masyarakat. Dan itu berbahaya,” ujar Nayla yang masih jomblo ini.
Sementara menurut Ririn (17), gadis kelahiran Banjarmasin, 15 Juli 1995, yang bersekolah di SMKN 1 Banjarmasin, persoalan BBM di Banua sebenarnya lebih disebabkan oleh pasokan yang tak mencukupi kebutuhan warga. “Tahun lalu saja, over kuota premium bersubsidi hingga 4 persen, mungkin di tahun ini akan lebih lagi. Percaya deh, antrian di SPBU akan lebih panjang,” ujar Ririn yang juga masih jomblo ini. Sedangkan menurut Sari Muliawati (19), gadis kelahiran Banjarmasin, 15 Juni 1992, yang akrab disapa Suzan, selain soal keresahan dan pasokan, pemerintah juga wajib menangani para pelangsir dan penimbun BBM menjelang kenaikan harga. “Mereka itu menyakiti semua orang. Harga yang sudah naik saja sudah merepotkan, eh malah ditambah prilaku buruk para penimbun BBM,” ujar Suzan, mahasiswa di sebuah akademi kebidanan itu kepada URBANA akhir pekan lalu.

(BACCO)

BINGKAI edisi 76 "Melakukannya Siang Hari"










Melakukannya Siang Hari

Sejak lama, orang mengenal Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalsel, sebagai kota penuh problema. Di kota yang dibelah Sungai Martapura ini, persoalan yang sama sering berulang. Parahnya, hampir tak ada langkah berarti untuk mengatasinya. Salah satu yang jadi momok bagi kehidupan di Banjarmasin adalah belum maksimalnya pemerintah mengatasi persoalan sampah.
mengeluarkan Perda Nomor 10/2009 tentang sampah dan mewajibkan warga hanya membuang sampah pada sore hingga malam hari dilengkapi denda cukup besar.
Tapi perda itu sepertinya masih kurang
maksimal. Ingin melihat bagaimana sampah
menjadi Raja? Cobalah berkeliling sepanjang
kota, maka tumpukan sampah akan ada
di mana- mana. Sebagian terangkut,
sebagian tidak. Persoalan inilah yang dinilai Endah Pritaningsih (17) sebagai bentuk masih jauhnya kesadaran warga dan pemerintah terhadap pengelolaan sampah yang baik. Padahal, ujarnya, sampah tak hanya membuat keindahan Banjarmasin terganggu, tapi juga akan berdampak buruk pada kesehatan warga. Aroma sampahnya pasti sangat mengganggu, ujar Endah yang lahir di Banjarmasin pada 23 Oktober 1995 dan tinggal di Jalan Sungai Jingah ini. Menurut Maya Sari (20), kelahiran Banjarmasin 1 Mei 1992 yang akrab disapa Maia, pemerintah lah yang punya peran besar dan paling bertanggungjawab terhadap pengelolaan sampah. Tapi, ujarnya, masyarakat juga harusnya kian sadar untuk tak membuat Banjarmasin kotor.  I n i akibat kelalaian petugas mengangkut sampah. Mungkin jumlah mereka sedikit, tapi harus efektif. Pemerintah harusnya menambah armada pengangkut sampah dan petugasnya, tutur gadis berkulit putih yang senang menyanyi ini.
Namun, menurut Novi Andra Sary (21), gadis
kelahiran Banjarmasin 28 April 1990 yang akrab disapa
Novi, yang paling bertanggungjawab adalah masyarakat
sendiri. Warga cenderung malas buang sampah pada
malam hari. Mereka lebih sering melakukannya siang
hari, kata Novi, mahasiswa salah satu fakultas di Unlam
itu.

(BACCO)

Kamis, 23 Februari 2012

BINGKAI edisi 75 "BEBAS"


BEBAS

Bisa jadi, teknologi mampu mengubah banyak hal. Sesuatu yang di masa silam dianggap tabu, kini jadi keseharian dan dipandang biasa. Kini misalnya, banyak orang dengan sangat mudah mengunduh tampilan terlarang di internet. Akibatnya, proses peniruan pun terjadi. Pergaulan yang dulu relatif tertutup, kini bebas lepas. Hal itulah yang membuat Dewi Yuliana (21) gundah. Gadis kelahiran Banjarmasin, 21 Juli 1990, yang biasa disapa Dewi ini berpendapat, pergaulan yang bebas di masa kini, lebih disebabkan kian terkikisnya nilai-nilai ketimuran. Kita harusnya tidak menyalahkan teknologi. Karena pada dasarnya, teknologi hadir dan berkembang untuk mempermudah kehidupan.Yang jadi masalah adalah ketika teknologi disalahgunakan. Jika kita tetap berpegang pada nilai-nilai agama dan adat ketimuran, dampak negatif teknologi pasti mampu dihadapi, ujar Dewi yang bertinggi badan 165 Centimeter, hobi nonton, dan bercita-cita jadi pramugari ini. Sedangkan Sischa Priccilliya Manique (20) punya pendapat berbeda.
Menurut gadis kelahiran Banjarmasin, 31 Juli 1991 ini, teknologi hanya sebagian kecil yang mempengaruhi kehidupan remaja. Yang terbesar, ujarnya, adalah keinginan dalam diri remaja itu sendiri yang suka coba-coba dengan hal baru. Sayangnya, hal itu justru berdampak negatif. Orang mencoba-coba untuk melakukan seks bebas dan narkoba misalnya.
Padahal, dua-duanya sama-sama berbahaya, ujar Siska yang kini kuliah di ASMI Banjarmasin dan senang karaoke serta renang ini. Untuk menghadapi dampak negatif teknologi dan pergaulan bebas itu, menurut Novita Sari (16), gadis kelahiran Banjarmasin, 16 Juni 1995 yang akrab disapa Novie, sudah saatnya para remaja membentengi dirinya masing-masing. Caranya bisa dengan sangat sederhana. Misalnya dengan mengurangi nonton berbagai tayangan di televisi yang tidak layak tonton oleh anak di bawah umur. Hanya, soal ini tak bisa dilepaskan dari peran orangtua, ujar Novie yang kini sekolah di SMA PGRI 6 Banjarmasin itu.

(BACCO)

Senin, 30 Januari 2012

BINGKAI edisi 74 "PALSU"



PALSU

Di zaman serba terbuka seperti sekarang, ternyata tak semuanya
nampak benderang dan jelas. Setuju atau tidak, kepalsuan kini menjadi
keseharian. Di berbagai tataran kehidupan, kepalsuan sulit dihindari.
Untuk menghadapinya, kewaspadaan tentu jadi salah satu pilihan.
Sikap waspada inilah yang kini dijalankan Siti Aisya (20). Gadis kelahiran
Banjarmasin, 11 Juni 1991 ini, sangat waspada dan berhati-hati ketika
berselancar di situs jejaring sosial. “Kadang informasi orang yang
mengajak berteman tidak jelas. Malahan ada yang palsu. Sudah
menikah, bilangnya lajang. Sudah berumur, bilangnya masih muda.
Itu kan menipu dan palsu namanya,” ujar Aisya.
Tapi, ujar Aisya yang tinggal di Alalak Berangas, Batola, ia cuek dengan
identitas palsu itu. “Kita jangan langsung percaya terhadap pertemanan
di dunia maya. Selidiki saja dulu, baru berteman,” ujarnya.
Sikap yang sama juga dilakukan Dessy Ariani (17) atau biasa disapa
Echi. “Kalau ada yang meminta pertemanan di FB misalnya, saya
perhatikan dulu statusnya. Jika tidak jelas, ya langsung hapus,” ujar
Echi, gadis kelahiran Banjarmasin, 3 Desember 1994 yang bercita-cita
menjadi pramugari dan senang makan bakso ini.
Berbeda dengan Aisya dan Echi, Lina Amalia (17), gadis kelahiran Banjarbaru,
23 Oktober 1994 yang akrab disapa Lien, tidak mempermasalahkan
identitas palsu yang banyak ditemukan di situs jejaring sosial. “Status
profil yang tidak betul bukanlah masalah bagi saya, selama saya tidak
ingin percaya dengan orang itu,” ujar Lien yang pernah menjadi Juara
Harapan II Busana Muslim 2003 se-Banjarmasin, Juara I Dancer Sophie
Talent 2011, dan Juara I Lomba Mengaji Cilik pada tahun 2003 ini.
U (BACCO)

Rabu, 18 Januari 2012

BINGKAI edisi 73 "TAK PERCAYA"


TAK PERCAYA

Tahun ini, ramalan kuno suku Indian Maya soal
kiamat akan diuji kebenarannya. Pro kontra pun
muncul menjelang akhir 2012 yang diyakini
mereka akan jadi waktu berakhirnya kehidupan
di muka bumi ini. Tapi, namanya juga ramalan, bisa
benar bisa tidak dan boleh percaya boleh tidak.
Rifia Heny Sukaisih (24), biasa disapa Heny misalnya,
sangat tidak percaya dengan ramalan hari kiamat
itu. “Ah, itu cuman isu. Sebagai manusia beragama
harusnya percaya sama ketentuanTuhan, termasuk
kapan datangnya hari kiamat,” ujar gadis berkulit kuning
langsat yang ingin jadi wanita karir ini.
Heny yang lahir di Banjarmasin, 5 April 1988, buah
hati Basuki Rahmat dan Rif’ah ini, hanya tersenyum
ketika tahu ada orang yang percaya dengan ramalan
kiamat. “Kok isu dipercaya. Apalagi itu hanya ramalan
manusia,” ujar gadis berbadan mungil ini.
TAK PERCAYA
Tak percaya juga hadir dalam diri Norlinda Ariani
(22), gadis kelahiran Banjarmasin, 15 Agustus 1990
yang biasa disapa Linda, ketika diajak berbincang soal
ramalan hari kiamat. Menurut Linda yang tinggal di
Komplek Persada Asri Estate, Handil Bakti, Batola, dan
pernah menjadi Juara II Putri Sasirangan Kalsel ini,
ramalam kiamat hanya candaan dan untuk menakutnakuti
orang. “Saya tidak sependapat dengan ramalan
itu. Kiamat tidak bisa ditentukan oleh siapa pun. Jadi
tidak usah ditanggapiserius,” ujar Linda yang kuliah
di Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
dan bertinggi badan 166 Cm itu.
Sedangkan Zhatiel (23), akrab disapa lebih singkat dengan
Zha, kelahiran Banjarmasin, 4 April 1989, menduga
ada misi lain di balik ramalan kiamat itu. “Bagaimana
mau percaya? Suku Maya-nya saja misterius begitu.
Menyikapi ramalan itu, harusnya kita lebih mendekatkan
diri pada Tuhan. Karena apa saja yang Tuhan kehendaki
pasti terjadi, tidak perlu diramal manusia,” ujar Zha
yang memiliki bra berukuran 36 itu.
U (BACCO)

Sabtu, 07 Januari 2012

BINGKAI edisi 72 "BERHARAP"


























Semua yang datang adalah
semua yang akan pergi.
Dalam setiap kedatangan dan
kepergian selalu saja terselip
harap, keadaan menjadi jauh
lebih baik. Hal semacam inilah yang kini
melingkupi banyak orang ketika tahun
2012 datang dan tahun 2011 pergi.
Anita Riyanti (20) atau biasa disapa Lewo
Lewo misalnya. Gadis kelahiran Banjarmasin,
15 November 1991 ini, berharap tahun
2012 membawa perubahan pada dirinya.
“Semoga di tahun 2012 ini, saya bisa menjadi
pribadi yang lebih baik daripada tahun kemarin,”
ujarnya.
Lewo Lewo juga ingin di tahun 2012 ini menjadi
lebih dewasa dan berpribadi positif, sehingga
bisa menyenangkan banyak orang. Pada malam
pergantian tahun, Lewo Lewo bersama keluarganya
memilih merayakan secara sederhana dengan
bakar ikan dan jagung bersama. “Nggak seperti
orang-orang lah. Cukup sederhana aja,” ujar peraih
Juara II Putri Kalsel 2009 yang masih kuliah di
Universitas Islam Kalimantan (Uniska) ini.


Seperti Anita Riyanti atau Lewo Lewo, Lolita Yuli Sari (19) juga berharap di tahun 2012 bisa menjadi lebih baik dalam segala hal. “Harapan saya tidak muluk-muluk, pengen di tahun ini lebih baik saja,” ujar Lolita, gadis kelahiran Banjarmasin, 13 Juli 1992, dan bertinggi badan 166 Centimeter ini.
Pada pergantian tahun, Lolita yang pernah menjadi salah satu finalis Putri Kalsel 2011 ini
merayakannya bersama keluarga. “Bersama keluarga justru lebih berasa,” ujar Lolita
yang ingin punya pacar yang setia, jujur, dan bertanggungjawab ini.
Berbeda dengan Lewo Lewo dan Lolita, Lina Kurniawati (20) atau biasa disapa Lina, punya
harapan yang lebih khusus di tahun 2012. Ia ingin di tahun ini lulus dari kuliah D3 Kebidanan yang diikutinya. “Agar dapat melanjutkan ke D4 atau S1 Kebidanan,” ujar Lina yang lahir di Kotabaru, 27 Maret 1991, dan kini kuliah di STIKES Husada Borneo ini.


Di pergantian tahun, Lina yang berprinsip hidup ‘maju terus pantang mundur’
ini tak punya agenda khusus. Ia justru sibuk mengerjakan dan
menyelesaikan tugas kuliahnya. “Fokus menghadapi ujian dan
mengerjakan proposal,” kata Lina yang senang fotografi ini. Mau ditemani Lina?