NILAIBisa jadi tak banyak orang yang mengetahui, akhir Maret merupakan Hari Hemat Energi se-Dunia. Di hari itu, biasanya para pemangku kepentingan dan aktivis menyerukan masyarakat untuk menghemat energi dengan tindakan-tindakan sederhana, misalnya menghentikan pemakaian listrik dalam beberapa menit dan jam.
Tindakan yang diyakini akan mampu menghemat energi dan biaya itu, menurut Resnicha Herlina (23), gadis yang akrab disapa Icha kelahiran Jakarta, 23 Maret 1989, harusnya dilakukan seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. “Walau kelihatannya mematikan listrik selama satu jam itu tindakan kecil, tapi hal itu pasti bermanfaat. Apalagi hampir seluruh kegiatan manusia saat ini sangat tergantung dengan listrik,” ujar gadis yang bercita-cita jadi akuntan publik ini.
Sedangkan menurut Syarida Ulfa (17), lebih akrab disapa Syarida, siswa sebuah SMK di Banjarmasin, penghematan itu harusnya didahului oleh tindakan nyata dari para pejabat. “Dengan mereka melakukan hemat energi, kita masyarakat biasa jadi punya contoh yang diikuti,” ujar Syarida, kelahiran Banjarmasin 29 Juni 1995 yang ingin jadi perawat dan senang jalan-jalan.
Sementara menurut Nadra Amanda (18), kelahiran Palembang, Sumatera
Selatan, pada 19 Desember 1994, kampanye hemat energi itu justru akan sia-sia
jika tak diikuti seluruh masyarakat. “Kadang imbauan pemerintah yang nilainya
baik, justru dianggap sepele. Padahal hemat energi itu penting. Karena itu,
alangkah baiknya kita mengikuti imbauan itu,” ujar Nadra yang senang makan
kentang goreng dan hobi renang ini.
(BACCO)
Selatan, pada 19 Desember 1994, kampanye hemat energi itu justru akan sia-sia
jika tak diikuti seluruh masyarakat. “Kadang imbauan pemerintah yang nilainya
baik, justru dianggap sepele. Padahal hemat energi itu penting. Karena itu,
alangkah baiknya kita mengikuti imbauan itu,” ujar Nadra yang senang makan
kentang goreng dan hobi renang ini.
(BACCO)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar