Kamis, 21 Juni 2012
BINGKAI edisi 83 "Dinikmati"
DINIKMATI
Dibanding daerah lain di Republik ini, Kalimantan terus
saja dianaktirikan. Pulau dan masyarakat Kalimantan memberi segalanya dan tak banyak menerima apa-apa
dari Jakarta. Dalam soal BBM saja misalnya, Kalimantan diperlakukan berbeda. Hal inilah yang kemudian menyulut perlawanan, dari blokir tongkang batu bara hingga tuntutan merdeka. Banyak orang mendukung perlawanan itu.
Dhea Rezky Amelya (19), gadis kelahiran Banjarmasin,
10 Juli 1993 yang kuliah di Poliban salah satunya. Dhea setuju dengan pemblokiran tongkang batu bara
itu. “Aksi itu sangat jitu. Sayangnya, wakil rakyat Kalsel di DPR tidak banyak berbuat,” ujar Dhea yang juga bercita-cita jadi penulis terkenal itu.
Sementara menurut Putri Rezkia Yulian (18), akrab disapa Putri dan lahir di Banjarmasin, 4 Juli 1994, pemblokiran itu harusnya bukan sekadar ancaman kosong. “Jangan hanya berhenti ketika pemerintah menambah kuota BBM. Tapi berlanjut pada soal ketidakadilan yang selama ini dialami Kalimantan,” ujar Putri yang masih single dan berharap segera dapat pria idamannya itu.
Sedangkan menurut, Rasida Nadia Sholehah (17), kelahiran Banjarmsin, 1 September
1995 yang akrab disapa Nadia, perlawanan harus dilakukan
dengan membawa isu kerusakan lingkungan yang selama ini
dialami Kalimantan. “Kekayaan alam kita ditambang, lingkungan
rusak sedangkan hasilnya tidak kita dinikmati. Nah, itu yang
harus diperjuangkan,” kata Nadia, siswa SMKN 4 Banjarmasin yang
bercita-cita jadi model itu.
(BACCO)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar