Kamis, 05 April 2012

BINGKAI edisi 77 "Panjang"


































PANJANG
Salah satu isu terseksi yang sedang berembus kencang di
Indonesia adalah kemungkinan naiknya harga Bahan Bakar
Minyak (BBM) pada April 2012. Besaran kenaikannya
masih dalam perdebatan. Menyusul hal itu, protes dan
demonstrasi pun merata terjadi di berbagai wilayah,
termasuk di Banua. Padahal, hingga kini Kalsel masih
belum mampu melepaskan diri dari persoalan BBM.
Lihat saja di sepanjang jalan di sekitar SPBU, antrean
panjang kendaraan masih terus berlangsung. Persoalan inilah yang menurut Dilycia Nayla (26), mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Banjarmasin, yang harusnya diselesaikan pemerintah. Menurut gadis kelahiran Banjarmasin, 1 April 1986 yang biasa disapa Nayla ini, persoalan BBM sangat penting untuk diselesaikan. “Jika tidak, keresahan pasti akan terus melingkupi masyarakat. Dan itu berbahaya,” ujar Nayla yang masih jomblo ini.
Sementara menurut Ririn (17), gadis kelahiran Banjarmasin, 15 Juli 1995, yang bersekolah di SMKN 1 Banjarmasin, persoalan BBM di Banua sebenarnya lebih disebabkan oleh pasokan yang tak mencukupi kebutuhan warga. “Tahun lalu saja, over kuota premium bersubsidi hingga 4 persen, mungkin di tahun ini akan lebih lagi. Percaya deh, antrian di SPBU akan lebih panjang,” ujar Ririn yang juga masih jomblo ini. Sedangkan menurut Sari Muliawati (19), gadis kelahiran Banjarmasin, 15 Juni 1992, yang akrab disapa Suzan, selain soal keresahan dan pasokan, pemerintah juga wajib menangani para pelangsir dan penimbun BBM menjelang kenaikan harga. “Mereka itu menyakiti semua orang. Harga yang sudah naik saja sudah merepotkan, eh malah ditambah prilaku buruk para penimbun BBM,” ujar Suzan, mahasiswa di sebuah akademi kebidanan itu kepada URBANA akhir pekan lalu.

(BACCO)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar