Kamis, 26 April 2012

BINGKAI edisi 79 "Bergiliran"



Bergiliran

Walau pemerintah menunda kenaikan harga Bahan Bakar
Minyak (BBM), keadaan pompapompa bensin di Banua tak banyak berubah. Antrean panjang para pembeli BBM hingga kini masih terus berlangsung. Waktu yang dibutuhkan pembeli untuk mendapat BBM pun tetap lama. Dengan berbagai cara, para pelangsir pun masih ikut
dalam antrean panjang dan membosankan itu.
Hal inilah yang membuat Ryzka Herusanti (19) keheranan. “Harga BBM kan tak jadi naik. Tapi kok antrean di pompa bensin masih saja terus terjadi. Harusnya masyarakat tak perlu panik menyikapi isu BBM itu,”
ujar Ryzka yang lahir di Batulicin, Tanah Bumbu, 27 Januari 1993 yang senang belanja, online, dan
difoto ini.
Rasa heran juga menghinggapi Mayya Rosdinna (17) atau yang biasa disapa Mayya Cluster, kelahiran Banjarmasin, 2 Mei 1995. Mayya heran dengan masih adanya para
pelangsir yang mengambil keuntungan dari isu kenaikan harga BBM ikut antre di SPBU. “Padahal kan di situ banyak polisi,” ujar Mayya yang bercita-cita jadi pramugari dan senang makan nasi goreng itu.
Kesal dengan antrean panjang yang tak juga berkurang itu, Nurul Mu’minah (20), kelahiran Kotabaru, 25 Mei 1992 yang akrab disapa Nurul, memilih tak ambil pusing. Sejak isu kenaikan harga BBM hingga penundaannya, Nurul tak pernah lagi ikut mengantre di SPBU. “Antreannya terlalu panjang. Lebih baik mengalah, walau harus membayar lebih mahal,” ujarnya.
nU (BACCO)

Kamis, 05 April 2012

BINGKAI edisi 78 "Nilai"



NILAI
Bisa jadi tak banyak orang yang mengetahui, akhir Maret merupakan Hari Hemat Energi se-Dunia. Di hari itu, biasanya para pemangku kepentingan dan aktivis menyerukan masyarakat untuk menghemat energi dengan tindakan-tindakan sederhana, misalnya menghentikan pemakaian listrik dalam beberapa menit dan jam.
Tindakan yang diyakini akan mampu menghemat energi dan biaya itu, menurut Resnicha Herlina (23), gadis yang akrab disapa Icha kelahiran Jakarta, 23 Maret 1989, harusnya dilakukan seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. “Walau kelihatannya mematikan listrik selama satu jam itu tindakan kecil, tapi hal itu pasti bermanfaat. Apalagi hampir seluruh kegiatan manusia saat ini sangat tergantung dengan listrik,” ujar gadis yang bercita-cita jadi akuntan publik ini.
Sedangkan menurut Syarida Ulfa (17), lebih akrab disapa Syarida, siswa sebuah SMK di Banjarmasin, penghematan itu harusnya didahului oleh tindakan nyata dari para pejabat. “Dengan mereka melakukan hemat energi, kita masyarakat biasa jadi punya contoh yang diikuti,” ujar Syarida, kelahiran Banjarmasin 29 Juni 1995 yang ingin jadi perawat dan senang jalan-jalan.
Sementara menurut Nadra Amanda (18), kelahiran Palembang, Sumatera
Selatan, pada 19 Desember 1994, kampanye hemat energi itu justru akan sia-sia
jika tak diikuti seluruh masyarakat. “Kadang imbauan pemerintah yang nilainya
baik, justru dianggap sepele. Padahal hemat energi itu penting. Karena itu,
alangkah baiknya kita mengikuti imbauan itu,” ujar Nadra yang senang makan
kentang goreng dan hobi renang ini.
(BACCO)

BINGKAI edisi 77 "Panjang"


































PANJANG
Salah satu isu terseksi yang sedang berembus kencang di
Indonesia adalah kemungkinan naiknya harga Bahan Bakar
Minyak (BBM) pada April 2012. Besaran kenaikannya
masih dalam perdebatan. Menyusul hal itu, protes dan
demonstrasi pun merata terjadi di berbagai wilayah,
termasuk di Banua. Padahal, hingga kini Kalsel masih
belum mampu melepaskan diri dari persoalan BBM.
Lihat saja di sepanjang jalan di sekitar SPBU, antrean
panjang kendaraan masih terus berlangsung. Persoalan inilah yang menurut Dilycia Nayla (26), mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Banjarmasin, yang harusnya diselesaikan pemerintah. Menurut gadis kelahiran Banjarmasin, 1 April 1986 yang biasa disapa Nayla ini, persoalan BBM sangat penting untuk diselesaikan. “Jika tidak, keresahan pasti akan terus melingkupi masyarakat. Dan itu berbahaya,” ujar Nayla yang masih jomblo ini.
Sementara menurut Ririn (17), gadis kelahiran Banjarmasin, 15 Juli 1995, yang bersekolah di SMKN 1 Banjarmasin, persoalan BBM di Banua sebenarnya lebih disebabkan oleh pasokan yang tak mencukupi kebutuhan warga. “Tahun lalu saja, over kuota premium bersubsidi hingga 4 persen, mungkin di tahun ini akan lebih lagi. Percaya deh, antrian di SPBU akan lebih panjang,” ujar Ririn yang juga masih jomblo ini. Sedangkan menurut Sari Muliawati (19), gadis kelahiran Banjarmasin, 15 Juni 1992, yang akrab disapa Suzan, selain soal keresahan dan pasokan, pemerintah juga wajib menangani para pelangsir dan penimbun BBM menjelang kenaikan harga. “Mereka itu menyakiti semua orang. Harga yang sudah naik saja sudah merepotkan, eh malah ditambah prilaku buruk para penimbun BBM,” ujar Suzan, mahasiswa di sebuah akademi kebidanan itu kepada URBANA akhir pekan lalu.

(BACCO)

BINGKAI edisi 76 "Melakukannya Siang Hari"










Melakukannya Siang Hari

Sejak lama, orang mengenal Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalsel, sebagai kota penuh problema. Di kota yang dibelah Sungai Martapura ini, persoalan yang sama sering berulang. Parahnya, hampir tak ada langkah berarti untuk mengatasinya. Salah satu yang jadi momok bagi kehidupan di Banjarmasin adalah belum maksimalnya pemerintah mengatasi persoalan sampah.
mengeluarkan Perda Nomor 10/2009 tentang sampah dan mewajibkan warga hanya membuang sampah pada sore hingga malam hari dilengkapi denda cukup besar.
Tapi perda itu sepertinya masih kurang
maksimal. Ingin melihat bagaimana sampah
menjadi Raja? Cobalah berkeliling sepanjang
kota, maka tumpukan sampah akan ada
di mana- mana. Sebagian terangkut,
sebagian tidak. Persoalan inilah yang dinilai Endah Pritaningsih (17) sebagai bentuk masih jauhnya kesadaran warga dan pemerintah terhadap pengelolaan sampah yang baik. Padahal, ujarnya, sampah tak hanya membuat keindahan Banjarmasin terganggu, tapi juga akan berdampak buruk pada kesehatan warga. Aroma sampahnya pasti sangat mengganggu, ujar Endah yang lahir di Banjarmasin pada 23 Oktober 1995 dan tinggal di Jalan Sungai Jingah ini. Menurut Maya Sari (20), kelahiran Banjarmasin 1 Mei 1992 yang akrab disapa Maia, pemerintah lah yang punya peran besar dan paling bertanggungjawab terhadap pengelolaan sampah. Tapi, ujarnya, masyarakat juga harusnya kian sadar untuk tak membuat Banjarmasin kotor.  I n i akibat kelalaian petugas mengangkut sampah. Mungkin jumlah mereka sedikit, tapi harus efektif. Pemerintah harusnya menambah armada pengangkut sampah dan petugasnya, tutur gadis berkulit putih yang senang menyanyi ini.
Namun, menurut Novi Andra Sary (21), gadis
kelahiran Banjarmasin 28 April 1990 yang akrab disapa
Novi, yang paling bertanggungjawab adalah masyarakat
sendiri. Warga cenderung malas buang sampah pada
malam hari. Mereka lebih sering melakukannya siang
hari, kata Novi, mahasiswa salah satu fakultas di Unlam
itu.

(BACCO)